Edisipost.com
Medan – Sosok ulama kharismatik Sumatera Utara, Syekh Ali Akbar Marbun, kembali menunjukkan perannya sebagai penyejuk di tengah situasi sensitif. Dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama dan anggota Pengurus Harian Syuriah PBNU, Buya Marbun juga merupakan pendiri serta pengasuh Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar di kawasan Medan Denai.
Figur yang memiliki kedekatan dengan berbagai tokoh nasional ini selama ini dikenal luas sebagai ulama yang menjunjung tinggi nilai-nilai nasionalisme dan persatuan. Di tengah keberagaman latar belakang keyakinan dalam marga Marbun, ia menjadi panutan yang mampu merangkul semua kalangan.
Dalam pertemuan dengan Tim Baintelkam Polri, Buya Marbun diminta untuk turut membantu meredam potensi gejolak pasca mencuatnya kasus dugaan teror berupa penemuan kepala babi di Masjid Al Hidayah, Sei Mencirim. Menanggapi hal tersebut, ia mengimbau masyarakat, khususnya umat Islam di Medan dan Sumatera Utara, untuk menyikapinya secara bijak.
“Jangan sampai kita terpancing dan bereaksi berlebihan, karena itu justru yang diinginkan oleh pelaku,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya menahan diri sembari memberikan kepercayaan kepada aparat kepolisian untuk menuntaskan proses hukum yang sedang berjalan.
Lebih lanjut, Buya Marbun menyatakan komitmennya untuk mendukung Polri dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Sumatera Utara. Ia juga akan berkoordinasi dengan para ulama lainnya guna mengajak masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.
Menurutnya, tindakan teror semacam ini berpotensi memicu keresahan dan kemarahan publik, bahkan bisa dimanfaatkan untuk menyerang kredibilitas aparat penegak hukum apabila penanganannya dinilai lambat atau tidak tuntas. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam skenario yang dapat memecah belah masyarakat.
Dengan sikap tenang dan ajakan persatuan tersebut, Buya Marbun diharapkan mampu menjadi penyeimbang di tengah situasi yang berpotensi memanas. /RA
