TPK Berlian dan Koperasi TKBM Tanjung Perak Latih 835 Pekerja, Perkuat Budaya K3 dan Target Zero Accident

oleh
TPK Berlian dan Koperasi TKBM Tanjung Perak Latih 835 Pekerja, Perkuat Budaya K3 dan Target Zero Accident

 

Edisipost.com
Surabaya, 8 Mei 2026 – PT Terminal Petikemas (TPK) Berlian bersama Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Tanjung Perak memperkuat komitmen terhadap budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui program Refreshment Training K3 bagi 835 pekerja TKBM di lingkungan Pelabuhan Tanjung Perak.

Pelatihan yang berlangsung dalam enam batch pada 30 April hingga 7 Mei 2026 tersebut digelar sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman pekerja terhadap standar keselamatan saat melakukan aktivitas bongkar muat petikemas di area operasional pelabuhan yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Terminal Head TPK Berlian, Burhanudin, menegaskan bahwa penerapan K3 bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan budaya kerja yang harus tertanam dalam setiap individu.

“K3 bukan hanya soal memenuhi aturan, tetapi bagaimana setiap pekerja memiliki kesadaran untuk menjaga keselamatan diri sendiri maupun rekan kerja. Di area terminal yang penuh aktivitas alat berat dan pergerakan petikemas, tidak ada ruang kompromi terhadap prosedur keselamatan,” ujar Burhanudin.

Ia menambahkan, konsistensi dalam menjalankan prosedur keselamatan dan kepedulian terhadap kondisi sekitar menjadi faktor utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif.
“Harapan kami, setiap pekerja berangkat kerja dengan semangat dan pulang ke rumah dalam kondisi sehat dan selamat tanpa kurang satu apa pun,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Achmad Muchtasyar, turut hadir dan memberikan penguatan terkait pentingnya implementasi budaya K3 secara berkelanjutan.

Menurutnya, keselamatan kerja merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap pekerja dan keluarga mereka.
“Pelaksanaan refreshment K3 ini bertujuan menjaga keselamatan seluruh pekerja di area pelabuhan demi keluarga tercinta yang menunggu di rumah. Bagi Pelindo, implementasi K3 adalah budaya yang tidak bisa ditawar,” kata Achmad Muchtasyar.

“Sebagai bentuk rasa syukur atas pekerjaan ini, mari bersama-sama menjaga lingkungan kerja agar tetap aman, tertib, dan kondusif,” lanjutnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai sembilan poin utama Corporate Life Saving Rules (CLSR) yang menjadi standar keselamatan kerja di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Materi yang diberikan meliputi prosedur bekerja di area terbatas (restricted area), keselamatan bekerja di sekitar perairan dengan penggunaan life jacket, hingga penanganan barang berbahaya (dangerous goods).

Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai verifikasi kelaikan alat berat, penerapan sistem Lock Out Tag Out (LOTO) saat perbaikan alat, penggunaan full body harness untuk pekerjaan di ketinggian, serta prosedur izin kerja khusus (permit to work) pada ruang terbatas.

Salah satu materi utama yang mendapat perhatian dalam pelatihan ini adalah bahaya blind spot atau titik buta pada alat berat seperti Reach Stacker, Rubber Tyred Gantry (RTG), dan truk petikemas. Melalui simulasi visual, peserta diberikan pemahaman mengenai keterbatasan pandangan operator yang dapat memicu kecelakaan kerja apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Para pekerja juga diingatkan untuk selalu mematuhi jalur pejalan kaki (pedestrian track), menjaga jarak aman dari alat berat, serta menghindari penggunaan telepon genggam maupun earphone saat berada di area operasional agar tetap waspada terhadap alarm dan instruksi petugas lapangan.

Ketua Koperasi TKBM Tanjung Perak, Eko Iswahyuono, mengapresiasi langkah TPK Berlian dalam memperkuat pemahaman keselamatan kerja bagi seluruh pekerja lapangan.

“Kami berterima kasih atas kegiatan refreshment safety induction dan blind spot ini. Pemahaman yang seragam antara operator alat dan tenaga kerja lapangan menjadi kunci utama keselamatan bersama,” ujar Eko.

Menurutnya, komitmen terhadap K3 juga menjadi fondasi penting dalam mendukung peningkatan produktivitas dan kelancaran operasional pelabuhan secara berkelanjutan.

Melalui program ini, TPK Berlian berharap budaya kerja berbasis K3 semakin kuat di seluruh lini operasional. Setiap pekerja juga didorong untuk berani melakukan intervensi keselamatan dengan mengingatkan rekan kerja yang melakukan tindakan tidak aman (unsafe action) maupun melaporkan kondisi lingkungan yang berpotensi membahayakan (unsafe condition).

Dengan sinergi antara manajemen terminal dan seluruh elemen pekerja, TPK Berlian optimistis dapat terus mempertahankan target Zero Accident guna mendukung kelancaran logistik nasional yang aman, andal, dan terpercaya.