Edisipost.com
Jakarta, 29 Mei 2026 – Kinerja logistik nasional menunjukkan tren yang semakin positif pada awal tahun 2026. Hal ini tercermin dari meningkatnya arus peti kemas yang dilayani PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, yang mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs) hingga April 2026, naik sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 5,99 juta TEUs.
Peningkatan tersebut menjadi indikator menguatnya aktivitas produksi, perdagangan, konsumsi, investasi, serta distribusi barang di berbagai wilayah Indonesia. Sebagai simpul utama rantai pasok nasional, pelabuhan memiliki peran strategis dalam mendukung pergerakan bahan baku, barang konsumsi, komoditas ekspor, hingga barang modal industri.
Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, mengatakan bahwa pertumbuhan arus peti kemas didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan internasional maupun distribusi domestik.
“Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen, dengan ekspor tumbuh 10 persen dan impor naik 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4 persen, dengan aktivitas bongkar meningkat 5 persen dan muat naik 4 persen,” ujar Achmad.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri Indonesia tetap tumbuh di tengah berbagai tantangan global, sekaligus mencerminkan kuatnya distribusi barang antarpulau yang menopang konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.
Ketahanan perdagangan Indonesia juga didukung oleh kuatnya hubungan dagang dengan negara-negara kawasan Asia. Saat ini, Tiongkok dan negara-negara ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor nasional, sehingga memberikan bantalan terhadap gejolak ekonomi global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas mencatat pertumbuhan positif, di antaranya lemak dan minyak hewan atau nabati yang tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 4,9 persen, serta berbagai produk kimia yang meningkat 12,27 persen.
Di sisi lain, impor barang modal dan bahan pendukung industri juga mengalami peningkatan signifikan. Impor mesin dan peralatan mekanis tumbuh 22,1 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, serta berbagai produk kimia sebesar 36,31 persen. Kenaikan tersebut mencerminkan masih kuatnya aktivitas investasi, ekspansi kapasitas produksi, dan agenda hilirisasi industri nasional.
Pertumbuhan arus peti kemas tercatat di sejumlah pelabuhan utama Indonesia, termasuk Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, dan Tanjung Perak di Surabaya. Aktivitas bongkar muat yang terus meningkat di pelabuhan-pelabuhan tersebut menunjukkan rantai pasok nasional tetap berjalan aktif dan efisien.
Untuk arus domestik, peningkatan distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia menjadi salah satu indikator pemerataan pertumbuhan ekonomi. Pelabuhan Tanjung Priok mencatat pertumbuhan arus domestik sekitar 8 persen, sedangkan Pelabuhan Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen, didorong peningkatan layanan ke Makassar, Kendari, dan Berau.
Sementara itu, Pelabuhan Makassar mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen yang didukung oleh meningkatnya pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija seiring berkembangnya aktivitas ekonomi di Sulawesi Selatan dan wilayah sekitarnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas dan layanan terminal peti kemas di berbagai daerah.
“Salah satu langkah yang dilakukan adalah penerbitan rekomendasi teknis penetapan terminal peti kemas dari fasilitas yang sebelumnya berstatus multipurpose. Selanjutnya, terminal tersebut ditetapkan sebagai terminal peti kemas oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Masyhud.
Hingga April 2026, sebanyak 12 lokasi terminal telah ditetapkan sebagai terminal peti kemas, termasuk Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Pemerintah juga terus melakukan evaluasi berkala terhadap standar pelayanan operasional guna menjaga kualitas layanan bongkar muat dan kinerja peralatan pelabuhan.
Di sisi infrastruktur, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan terus mempercepat modernisasi dan pengembangan fasilitas pelabuhan melalui peningkatan kapasitas terminal peti kemas, pendalaman alur pelayaran, penambahan kapasitas tambatan dan lapangan penumpukan, modernisasi alat bongkar muat, serta digitalisasi layanan kepelabuhanan.
Pada periode 2025 hingga 2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan pemerintah telah dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat jaringan pelabuhan nasional, mendukung kawasan industri dan hilirisasi, serta meningkatkan konektivitas logistik dari barat hingga timur Indonesia.
Dengan tren pertumbuhan arus peti kemas yang terus meningkat, pelabuhan nasional diharapkan mampu menjadi motor penggerak perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa mendatang.
