Edisipost.com
MEDAN – Layanan kereta api penumpang di Sumatera Utara terus berkembang sebagai tulang punggung konektivitas antardaerah. Namun, di balik meningkatnya layanan dan dukungan subsidi pemerintah, moda transportasi berbasis rel ini masih menghadapi sejumlah tantangan besar, mulai dari keterbatasan infrastruktur jalur tunggal (single track), tingginya jumlah pelintasan sebidang tidak dijaga, hingga perubahan pola mobilitas masyarakat pascapandemi.(15/07/2026)
Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan saat ini mengelola jaringan rel sepanjang 881,45 kilometer. Dari jumlah tersebut, 456,45 kilometer (51,8 persen) merupakan jalur aktif, sedangkan 425 kilometer (48,2 persen) masih berstatus nonaktif.
Jaringan tersebut didukung oleh 46 stasiun aktif, 20 stasiun nonaktif, serta rencana pembangunan dua stasiun baru di lintas Medan–Binjai, yakni Stasiun Sunggal dan Stasiun Helvetia. Wilayah kerja BTP Kelas I Medan juga mencakup lintas Lhokseumawe–Bireuen di Provinsi Aceh sepanjang 29,4 kilometer dengan lebar rel standar 1.435 milimeter.
Layanan KA Penumpang Terus Meningkat
Saat ini terdapat 64 perjalanan kereta api penumpang setiap hari, terdiri atas 6 perjalanan kereta api komersial dan 58 perjalanan kereta api bersubsidi (PSO) maupun perintis.
Layanan tersebut dioperasikan melalui tujuh armada, yakni KA Sribilah Utama sebagai layanan komersial, serta KA Putri Deli, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Blambangan, KA Srilelawangsa, KA Srilelawangsa Bandara, dan KA Cut Meutia sebagai layanan penugasan pemerintah.
KA Putri Deli melayani lintas Medan–Tanjung Balai sepanjang 174,4 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 4 jam 20 menit dan enam perjalanan setiap hari. Sementara itu, KA Siantar Ekspres melayani lintas Medan–Pematang Siantar sepanjang 129 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 53 menit dan empat perjalanan per hari.
Untuk lintas Tebing Tinggi–Lalang sepanjang 35,6 kilometer, layanan diberikan oleh KA Datuk Blambangan dengan waktu tempuh 56 menit dan empat perjalanan setiap hari.
Di kawasan perkotaan, KA Srilelawangsa melayani rute Medan–Binjai–Kuala Bingai sepanjang 34,93 kilometer dengan 20 perjalanan per hari, sedangkan KA Srilelawangsa Bandara menghubungkan Medan–Araskabu–Bandara Kualanamu sepanjang 27,43 kilometer dengan 24 perjalanan setiap hari.
Sementara itu, layanan KA Cut Meutia di Aceh yang melayani lintas Muarasatu–Kutablang sepanjang 29,45 kilometer dengan delapan perjalanan per hari masih dihentikan sementara sejak Desember 2025 akibat kerusakan prasarana yang dipicu bencana hidrometeorologi.
KA Putri Deli dan Siantar Ekspres Jadi Andalan Masyarakat
KA Putri Deli menjadi salah satu layanan dengan tingkat okupansi tertinggi di Sumatera Utara. Kereta ini menjadi pilihan utama pekerja, pelajar, dan pedagang yang melakukan perjalanan dari wilayah pesisir timur menuju Kota Medan.
Sementara itu, KA Siantar Ekspres menjadi moda transportasi penting yang menghubungkan Medan, Tebing Tinggi, dan Pematang Siantar, sekaligus mendukung akses wisata menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba.
Adapun KA Datuk Blambangan berperan sebagai kereta api lokal yang melayani mobilitas masyarakat dari Tebing Tinggi menuju kawasan industri dan pelabuhan Kuala Tanjung.
Subsidi Tarif Dongkrak Minat Penumpang
Kebijakan pemerintah menambah 24 perjalanan KA Srilelawangsa Bandara sejak 2025 terbukti meningkatkan keterjangkauan layanan.
Tarif perjalanan yang sebelumnya mencapai Rp80.000–Rp100.000 kini turun menjadi Rp5.000 untuk rute Medan–Araskabu dan Rp40.000–Rp50.000 menuju Bandara Kualanamu.
Kebijakan tersebut mendorong meningkatnya minat masyarakat menggunakan kereta api sebagai moda transportasi menuju bandara.
Penumpang Perkotaan Menurun
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah penumpang kereta api di wilayah kerja BTP Kelas I Medan mencapai 2.265.806 orang.
Sebanyak 1.378.961 penumpang (60,9 persen) merupakan pengguna layanan perkotaan, sedangkan 886.845 penumpang (39,1 persen) menggunakan layanan antarkota.
Rata-rata jumlah penumpang harian pada 2026 mencapai 15.005 orang, atau turun 11,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menariknya, segmen antarkota justru mengalami pertumbuhan 7,57 persen menjadi 5.873 penumpang per hari, sedangkan penumpang perkotaan turun 21,01 persen menjadi 9.132 penumpang per hari.
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh masih diterapkannya kebijakan Work From Home (WFH) di sejumlah instansi dan perusahaan yang mengurangi mobilitas harian masyarakat.
Jalur Tunggal dan Keselamatan Masih Menjadi Tantangan
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai tantangan terbesar layanan kereta api di Sumatera Utara saat ini adalah keterbatasan kapasitas infrastruktur.
“Tantangan terbesar kereta api penumpang di Sumatera Utara adalah bagaimana menyeimbangkan kapasitas infrastruktur yang masih didominasi jalur tunggal dengan kebutuhan frekuensi perjalanan yang terus meningkat. Modernisasi sistem operasional, peningkatan keselamatan pelintasan sebidang, serta penguatan ketahanan infrastruktur terhadap bencana menjadi kunci untuk meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap kereta api,” ujar Djoko.
Menurutnya, dari 640 pelintasan sebidang, sebanyak 480 pelintasan atau 75 persen masih belum dijaga. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan sekaligus memaksa kereta mengurangi kecepatan di sejumlah titik sehingga berdampak pada ketepatan waktu perjalanan.
Selain itu, sistem jalur tunggal juga menyebabkan setiap gangguan kecil dapat memicu keterlambatan berantai karena terbatasnya ruang untuk persilangan dan penyusulan antarkereta.
Djoko juga menyoroti masih terbatasnya jangkauan jaringan rel menuju kawasan pertumbuhan baru di sekitar Medan, tingginya kerentanan infrastruktur terhadap bencana hidrometeorologi, serta persaingan dengan moda transportasi jalan yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi.
Infrastruktur Menjadi Kunci Masa Depan
Djoko menegaskan bahwa masa depan transportasi kereta api di Sumatera Utara sangat ditentukan oleh keberhasilan pemerintah memperkuat infrastruktur.
Penyelesaian keterbatasan jalur tunggal, peningkatan keselamatan melalui sterilisasi pelintasan sebidang, penguatan ketahanan infrastruktur terhadap bencana, serta optimalisasi layanan berbasis subsidi harus menjadi prioritas. Dengan langkah tersebut, kereta api dapat menjadi moda transportasi yang semakin aman, tepat waktu, dan mampu menarik kembali penumpang perkotaan,” pungkasnya.
