JAKARTA (Edisipost.com) – Dalam rangka meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di kancah global, Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) menggelar konferensi bertajuk “Port of The Future: Smart, Fast, and Trusted”. Inisiatif ini menjadi langkah strategis untuk mendorong transformasi pelabuhan nasional sebagai gerbang perdagangan global (Global Gateways to Global Trade).
Konsep “Port of The Future” menekankan tiga pilar utama: penerapan teknologi cerdas (smart port), kecepatan layanan (fast services), dan kepercayaan terhadap operasional pelabuhan (trusted operation). Ketiga aspek ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing pelabuhan Indonesia secara menyeluruh.
Dalam konferensi ini, sejumlah narasumber dari berbagai perusahaan pelabuhan dan logistik turut hadir, di antaranya:
Mulyadi (PT Krakatau Bandar Samudera)
Restimaya Susiwi (PT Indika Logistic & Support Services)
Capt Agoes Soeryanto (PT IMPT)
Marianus Oei (PT Siam Maspion Terminal)
Edi Rivai (PT Chandra Asri Pacific Tbk)
Eky Kurniawan (PT Pelabuhan Tegar Indonesia)
Transformasi menuju pelabuhan cerdas diyakini akan mempercepat arus barang, menekan biaya logistik, serta menciptakan layanan yang lebih transparan dan efisien. Salah satu langkah konkret adalah digitalisasi dan integrasi sistem informasi antar pemangku kepentingan, mulai dari operator pelabuhan, sektor logistik, hingga perdagangan.
Penerapan sistem manajemen pelabuhan berbasis data real-time memungkinkan proses bongkar muat, distribusi, hingga dokumentasi berjalan lebih cepat, akurat, dan aman. Sejumlah pelabuhan besar seperti Tanjung Priok telah mulai mengadopsi teknologi pintar melalui implementasi smart gate, single billing, serta pemanfaatan Internet of Things (IoT).
Pemerintah bersama operator pelabuhan terus mendorong percepatan adopsi teknologi ini sebagai bagian dari visi Indonesia menjadi poros maritim dunia yang terintegrasi secara global dan berdaya saing tinggi di masa depan.
