Saham CLAY Melejit Ribuan Persen Meski Rugi, Ekspansi ke Rumah Sakit Jadi Strategi Baru

oleh
Saham CLAY Melejit Ribuan Persen Meski Rugi, Ekspansi ke Rumah Sakit Jadi Strategi Baru

Edisipost.com

Jakarta, 24 September 2025 – PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY) menggelar public expose insidentil pada Rabu (24/9) menyusul penghentian sementara perdagangan saham oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) akibat lonjakan harga saham yang signifikan. Public expose ini digelar untuk menjawab permintaan klarifikasi dari otoritas bursa dan menjaga transparansi kepada publik.

“Kami diminta untuk menyampaikan klarifikasi kepada publik atas lonjakan harga saham CLAY dalam beberapa waktu terakhir,” ujar Direktur Utama CLAY, Nany Adriani, dalam acara yang berlangsung di The City Tower, Sudirman, Jakarta.

Harga Saham Melejit Meski Perusahaan Rugi

Saham CLAY tercatat melonjak hingga 1.255,42% dalam satu tahun terakhir, dari Rp208,4 ke Rp2.250 per saham. Harga tertinggi sempat menyentuh Rp2.500 pada 18 September 2025, sebelum akhirnya BEI menghentikan sementara perdagangannya. Saham ini tercatat dalam sektor jasa konsumen dengan kode papan perdagangan DBX.

Ironisnya, kenaikan harga ini terjadi di tengah penurunan kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan semester I 2025, pendapatan konsolidasi CLAY hanya mencapai Rp53,12 miliar, turun hampir 50% dibandingkan Rp107,03 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba kotor juga merosot menjadi Rp18,58 miliar, dan perusahaan membukukan kerugian sebelum pajak sebesar Rp12,25 miliar, naik drastis dari kerugian Rp1,62 miliar pada tahun lalu. Rugi komprehensif periode berjalan turut membengkak menjadi Rp9,65 miliar dari sebelumnya Rp1,24 miliar.

“Salah satu penyebab kerugian adalah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah, yang berdampak pada penurunan pendapatan kami. Sektor pemerintah selama ini menyumbang sekitar 20 persen dari total pendapatan,” jelas Direktur CLAY, Chairul Umaiya.

The Stones Hotel Bali Masih Jadi Tulang Punggung

CLAY saat ini mengandalkan pendapatan dari dua hotel utama, yakni The Stones Hotel – Bali dan Clay Hotel – Jakarta. Kontribusi terbesar datang dari The Stones Hotel yang menyumbang lebih dari 90% pendapatan, dengan pemasukan mencapai Rp51,8 miliar hingga Juni 2025. Sementara Clay Hotel hanya menyumbang Rp1,28 miliar.

The Stones Hotel merupakan hotel bintang lima dengan 380 kamar di kawasan Kuta, Bali. Hotel ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti restoran, kafe, spa, kolam renang, ballroom, hingga layanan antar-jemput bandara.

Sementara itu, Clay Hotel di Menteng, Jakarta merupakan hotel bintang dua dengan 81 kamar, restoran, dan layanan bisnis sederhana.

Langkah Berani: Ekspansi ke Sektor Kesehatan

Di tengah tekanan keuangan, CLAY justru memilih melakukan ekspansi ke sektor layanan kesehatan. Manajemen mengumumkan proyek pembangunan Rumah Sakit Royal Sukadana di Pontianak sebagai bagian dari strategi diversifikasi pendapatan.

“Kami tidak berhenti di tengah tekanan. Justru saat seperti inilah kami melakukan penguatan aset agar bisa menuai hasil di masa depan,” tegas Chairul Umaiya.

Menurut manajemen, langkah ekspansi ini sejalan dengan visi CLAY untuk menjadi perusahaan terkemuka dan terpercaya di bidang pengembangan serta investasi properti, dengan memperluas portofolio bisnis ke sektor yang lebih resilien seperti kesehatan.

“Kami fokus pada pengembangan produk-produk berkualitas dengan pengembalian investasi yang tinggi. Pengelolaan dua hotel yang ada juga akan terus dioptimalkan guna meningkatkan tingkat hunian dan efisiensi biaya,” pungkas Nany Adriani.