Barantin Kawal Rp304 Triliun Ekspor Komoditas, Dukung Asta Cita Prabowo–Gibran

oleh
Barantin Kawal Rp304 Triliun Ekspor Komoditas, Dukung Asta Cita Prabowo–Gibran

Edisipost.com

Jakarta, 6 November 2025 – Badan Karantina Indonesia (Barantin) menegaskan komitmennya dalam mendukung program prioritas Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Barantin berhasil mengawal nilai ekspor komoditas karantina mencapai Rp304,7 triliun, sekaligus menjaga ketahanan pangan dan keamanan hayati nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean dalam kegiatan Coffee Morning bertajuk “Refleksi Kinerja Karantina dalam 1 Tahun Program Presiden Prabowo–Gibran” yang digelar di Jakarta, Kamis (6/11). Kegiatan ini dihadiri perwakilan kementerian/lembaga, TNI/Polri, BUMN, serta pelaku usaha ekspor–impor.

“Tugas dan fungsi Barantin sejalan dengan Asta Cita Presiden, yaitu memperkuat sistem pertahanan negara serta meningkatkan kemandirian pangan dan perekonomian rakyat,” ujar Sahat.
“Karantina tidak hanya menjadi benteng pertahanan biologis negara, tetapi juga penggerak ekonomi melalui pengawasan dan fasilitasi perdagangan komoditas hewan, ikan, tumbuhan, dan produk turunannya,” lanjutnya.

2,2 Juta Sertifikat, 300 Triliun Lebih Nilai Ekspor

Sahat menjelaskan, hingga Oktober 2025 Barantin telah menerbitkan 2.213.396 sertifikat karantina, yang terdiri atas 116.936 sertifikasi impor, 317.205 sertifikasi ekspor, dan 1.779.255 sertifikasi antar area. “Angka ini mencerminkan peran aktif Barantin dalam memastikan keamanan, kesehatan, dan kelancaran lalu lintas komoditas di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Selain sebagai garda terdepan perlindungan sumber daya alam, Barantin juga berfungsi sebagai economic tools yang mendorong daya saing ekspor nasional. Capaian ekspor senilai Rp304,7 triliun tersebut didukung oleh kerja sama internasional dan penandatanganan berbagai protokol karantina dengan negara mitra, guna memastikan keberterimaan produk Indonesia di pasar global.

Perkuat Pertahanan Non-Militer dan Layanan Digital

Barantin juga memperkuat sistem pertahanan negara non-militer melalui pengawasan ketat terhadap hewan, ikan, dan tumbuhan yang melintas. Sepanjang Januari–Oktober 2025, tercatat 1.891 kali penahanan, 2.145 kali penolakan, dan 962 kali pemusnahan terhadap komoditas yang tidak memenuhi syarat karantina.

Dalam upaya mempercepat layanan, Barantin menerapkan sistem Pre-Border Karantina, yang memungkinkan pemeriksaan dokumen dan kelayakan komoditas dilakukan sejak di negara asal. “Dengan mekanisme ini, proses border clearance di pelabuhan atau bandara menjadi jauh lebih cepat dan efisien,” ujar Sahat.

Transformasi digital juga terus digalakkan melalui sistem BEST TRUST (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology) yang terintegrasi dengan Indonesia National Single Window (INSW). Sistem ini memanfaatkan Artificial Intelligence (AI), termasuk virtual assistant berbasis chatbot untuk memberikan data statistik ekspor-impor dan pengelolaan PNBP secara real-time.

“Inovasi ini menandai langkah maju Barantin dalam mendukung digitalisasi pemerintahan yang modern dan adaptif terhadap tantangan global,” tutur Sahat.

Sinergi Lintas Sektor Kunci Ketahanan Pangan

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Karantina Jakarta, Amir Hasanuddin, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.

“Coffee Morning ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi untuk mempercepat arus logistik, meningkatkan kepatuhan pelaku usaha ekspor-impor, serta melahirkan kebijakan yang seragam dan efektif,” ujarnya.
“Kita ingin mewujudkan Karantina yang KUAT – Kompeten, Unggul, Amanah, dan Tangguh,” tambahnya.

Acara ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama media, di mana peserta memberikan masukan konstruktif terhadap sistem layanan karantina agar semakin adaptif terhadap dinamika perdagangan global.