Edisipost.com
Bitung, 6 Januari 2026 – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melakukan pemantauan pasokan bahan bakar minyak (BBM) guna memastikan kelancaran arus balik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Pemantauan dilakukan melalui monitoring proses bunkering pada KM Sangiang di Pelabuhan Samudera Bitung, Selasa (6/1) malam.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Utama PELNI Tri Andayani, didampingi Direktur Armada dan Teknik Robert MP Sinaga serta Kepala Cabang PELNI Bitung Juni Samsudin. Turut hadir Kepala BPH Migas Wahyudi Anas, jajaran Komite BPH Migas, dan Koordinator Pengawas BPH Migas.
Direktur Utama PELNI Tri Andayani, yang akrab disapa Anda, mengatakan bahwa monitoring bersama BPH Migas merupakan langkah strategis untuk memastikan proses bunkering berjalan optimal, terutama di masa puncak arus balik Nataru.
“Monitoring ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk menjaga keandalan pasokan BBM agar operasional kapal tetap aman dan lancar selama periode arus balik Nataru 2025/2026,” ujar Anda.
Selain itu, PELNI juga menggandeng PT Sucofindo dalam proses bunkering guna menjamin kesesuaian pengisian BBM baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.
“Kami melibatkan PT Sucofindo agar pengisian BBM benar-benar sesuai standar, sehingga operasional kapal dapat berjalan secara optimal,” tambahnya.
Selama periode Nataru 2025/2026, kebutuhan BBM untuk 25 kapal penumpang dan 30 kapal perintis PELNI diperkirakan mencapai 17.000–18.000 kiloliter (KL). Jumlah ini meningkat sekitar 9–12 persen dibandingkan periode reguler.
Saat ini, PELNI mengoperasikan total 84 armada dengan 32 homebase bunkering reguler yang tersebar di seluruh Indonesia. Khusus pada masa puncak Nataru, PELNI menambah dua titik bunkering, yakni di Ambon dan Bitung.
“Penambahan titik bunkering ini kami lakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan BBM selama peak season,” jelas Anda.
Untuk tahun 2026, kebutuhan BBM operasional PELNI diproyeksikan mencapai sekitar 220 ribu KL untuk pengoperasian 84 kapal, dengan estimasi anggaran subsidi sebesar Rp1,5 triliun.
Sementara itu, realisasi penggunaan Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) tercatat sebesar 186 ribu KL pada 2023 untuk 26 kapal. Angka tersebut menurun menjadi 179 ribu KL pada 2024 akibat penghentian sementara operasional KM Umsini, dan diperkirakan kembali turun menjadi sekitar 177 ribu KL pada 2025 dengan pengoperasian 25 kapal.
Melalui sinergi bersama BPH Migas dan para pemangku kepentingan, PELNI berkomitmen menjaga kelancaran pasokan BBM demi mendukung arus balik Nataru 2025/2026 serta operasional kapal sepanjang tahun.
PELNI juga menegaskan komitmennya terhadap efisiensi dan keberlanjutan energi, termasuk melalui pengadaan kapal baru dengan teknologi modern yang mendukung penggunaan BBM ramah lingkungan dan kontribusi terhadap target net zero emission.
“Kami terus mendukung penggunaan BBM ramah lingkungan melalui perawatan rutin tangki dan instalasi bahan bakar di atas kapal agar tetap andal dan efisien,” pungkas Anda.
