Edisipost.com
Jakarta – Road to Konser 165 HKBP kian menunjukkan skalanya sebagai gerakan budaya berskala nasional dan internasional. Tidak sekadar konser musik, rangkaian kegiatan menuju 165 tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ini ditargetkan menyambangi lebih dari 160 kota di dalam dan luar negeri, dengan misi memperkuat identitas budaya Batak sekaligus membangun ekosistem musik Batak yang lebih profesional dan berdaya saing.
Digagas oleh Efendi Simbolon, konser ini telah digelar di Surabaya, Semarang, Bandung, dan Jakarta sebagai bagian dari tahap awal tur.
Antusiasme masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa musik Batak memiliki basis penggemar yang luas, termasuk di kalangan generasi muda.
Gerakan Budaya Menuju 165 Tahun HKBP
Efendi Simbolon menegaskan bahwa Road to Konser 165 HKBP bukan sekadar agenda hiburan, melainkan gerakan budaya yang membawa misi jangka panjang.
“Ini bukan hanya panggung hiburan. Kami ingin menghadirkan ruang silaturahmi, memperkuat identitas budaya, sekaligus mendorong industri musik Batak agar semakin profesional dan berdaya saing,” ujar Efendi.
Seluruh rangkaian tur ini diarahkan menuju ibadah raya dan perayaan puncak 165 tahun HKBP yang direncanakan berlangsung di Gelora Bung Karno pada Oktober 2026.
Momentum tersebut diproyeksikan menjadi ajang kebersamaan jemaat dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.
Bidik 160 Kota, Jangkau Diaspora hingga Eropa
Pada tahap awal, Road to Konser 165 HKBP menyasar sedikitnya 33 kabupaten/kota sebelum diperluas hingga lebih dari 160 kota di dalam dan luar negeri. Tur ini juga direncanakan menjangkau komunitas diaspora Batak di Amerika Serikat dan Eropa.
Salah satu kota yang masuk dalam rencana kunjungan adalah Northeim, Jerman, yang memiliki nilai historis dalam perjalanan misi kekristenan di Tanah Batak.
Posan Tobing selaku promotor melalui Anak Ni Raja Production menegaskan bahwa menjaga kualitas di setiap kota menjadi tantangan utama dalam tur berskala besar ini.
“Kami menyadari ini bukan pekerjaan kecil. Tetapi justru di situlah profesionalisme kami diuji. Setiap kota harus merasakan energi dan kualitas pertunjukan yang sama,” ujar Posan.
Ia menambahkan, antusiasme masyarakat di kota-kota sebelumnya menunjukkan bahwa musik Batak memiliki daya tarik yang tidak terbatas pada satu komunitas saja.
“Yang menarik, penonton yang hadir bukan hanya orang Batak. Ini membuktikan bahwa musik Batak punya daya tarik universal dan bisa diterima lintas budaya,” katanya.
Bangun Ekosistem Musik Batak yang Profesional
Selain menjadi panggung hiburan, Road to Konser 165 HKBP juga dirancang untuk memperkuat ekosistem musik Batak secara berkelanjutan. Seleksi artis dilakukan secara ketat dengan mempertimbangkan kualitas musikalitas dan daya tarik publik.
“Kami ingin menjaga standar. Konser ini profesional, sehingga manajemennya pun harus profesional,” tegas Posan.
Sebagian margin keuntungan dari rangkaian konser ini juga akan dialokasikan untuk mendukung persiapan perayaan puncak 165 tahun HKBP di Gelora Bung Karno. Skema ini menjadi bentuk gotong royong modern yang memadukan semangat pelayanan, budaya, dan tata kelola industri kreatif.
Dengan konsep maraton lintas kota dan visi jangka panjang, Road to Konser 165 HKBP diharapkan menjadi momentum strategis dalam memperkuat identitas budaya Batak, memperluas jejaring diaspora, serta membangun fondasi ekosistem musik Batak yang kokoh dan berkelanjutan.





