Edisipost.com
Surabaya, 27 Oktober 2025 – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mencetak tonggak sejarah baru dalam upaya memperkuat efisiensi rantai pasok nasional dengan melayani pengangkutan ekspor multimoda perdana. Pengiriman perdana ini dilakukan pada Kamis, 23 Oktober 2025, melalui rute Stasiun Semarang Tawang – Terminal Teluk Lamong Surabaya, menandai implementasi nyata skema transportasi ekspor yang lebih efisien, terintegrasi, dan ramah lingkungan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara PT Bintang Laut Platinum selaku operator angkutan multimoda, PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Terminal Teluk Lamong, serta OOCL Shipping. Komoditas yang diangkut merupakan produk industri asal Jawa Tengah yang akan diekspor ke sejumlah negara di kawasan Asia.
Melalui skema ini, muatan ekspor dari Semarang diangkut menggunakan kereta api menuju Stasiun Surabaya Benteng, lalu diteruskan dengan truk menuju Terminal Teluk Lamong untuk proses muat ekspor. Seluruh dokumen kepabeanan ekspor terdiri dari Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), Nota Pelayanan Ekspor (NPE), Bill of Lading (BL), dan Customs Manifest telah diselesaikan di KPPBC Tanjung Emas di Semarang, dengan pengawasan dari KPPBC Tanjung Perak di Pelabuhan Teluk Lamong.
Model pengangkutan multimoda ini terbukti lebih efisien dibandingkan metode konvensional yang sepenuhnya menggunakan truk dari Semarang ke Surabaya. Selain menghemat waktu dan biaya, mekanisme ini juga memastikan dokumen ekspor lebih lengkap dan terintegrasi, serta menjamin pencatatan devisa hasil ekspor dan bea keluar tetap kembali ke daerah asal (Semarang), sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi wilayah penghasil.
Direktur Operasi PT Bintang Laut Platinum, Iko Sukma Handriadianto, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Logistik dan Multimoda DPW ALFI Jawa Timur, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam keberhasilan proyek ini.
“Terima kasih kepada Tim KPPBC Tanjung Perak dan Tim Terminal Teluk Lamong atas dukungan luar biasa yang diberikan. Kegiatan perdana ini membuktikan bahwa Pelabuhan Surabaya kini benar-benar berfungsi sebagai hub port internasional, mendukung integrasi transportasi dengan konsep single document antarwilayah dan antarnegara,” ujar Iko.
Sementara itu, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, menegaskan bahwa implementasi skema multimoda ini memberikan manfaat nyata bagi para eksportir, khususnya yang berlokasi jauh dari pelabuhan.
“Transportasi multimoda adalah solusi logistik terintegrasi yang mampu menekan biaya, mempercepat waktu tempuh, dan memastikan kepatuhan terhadap ketentuan kepabeanan secara optimal,” jelas David.
Lebih jauh, David menambahkan bahwa penerapan skema ini juga memiliki dampak positif terhadap lingkungan.
“Dengan memindahkan sebagian besar muatan ke moda kereta api, beban lalu lintas jalan raya berkurang signifikan dan emisi kendaraan angkutan dapat ditekan. Efisiensi logistik meningkat, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.
