Edisipost.com
Pontianak, 12 Mei 2026 – IPC Terminal Petikemas kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan inklusif melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Kali ini, perusahaan menghadirkan pelatihan keterampilan perawatan wajah dan tubuh bagi perempuan penyandang disabilitas di Kalimantan Barat sebagai upaya membuka akses ekonomi dan meningkatkan kemandirian mereka.
Program yang berlangsung selama tiga hari, pada 11–13 Mei 2026, merupakan hasil kolaborasi IPC Terminal Petikemas bersama Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kalimantan Barat dan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat. Sebanyak 20 perempuan penyandang disabilitas mengikuti pelatihan facial dan massage yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus membangun rasa percaya diri peserta.
Selain mendapatkan praktik langsung bersama trainer profesional, para peserta juga dibekali materi pelayanan pelanggan hingga dasar-dasar kewirausahaan sebagai modal untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha mandiri.
Corporate Secretary IPC Terminal Petikemas, Daniel Setiawan, mengatakan bahwa program TJSL perusahaan tidak hanya berfokus pada bantuan sosial, tetapi juga pada penciptaan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Bagi kami, TJSL bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membuka peluang dan menciptakan perubahan nyata. Melalui program ini, kami ingin perempuan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya, dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Kalimantan Barat, Permai Budi Susatyo. Menurutnya, pelatihan ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi kelompok rentan.
“Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta agar semakin berdaya, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga. Berdasarkan Data SIDT tahun 2026, terdapat 338.257 pelaku UMKM di Kalimantan Barat dan sebanyak 88.293 pelaku kewirausahaan. Artinya, peluang untuk bertumbuh di sektor usaha terbuka luas, termasuk bagi penyandang disabilitas,” katanya.
Bagi perempuan penyandang disabilitas, tantangan terbesar kerap bukan terletak pada kemampuan, melainkan terbatasnya akses dan kesempatan. Karena itu, program ini dirancang sebagai ruang belajar sekaligus ruang tumbuh yang mempertemukan perusahaan, komunitas disabilitas, pemerintah daerah, trainer profesional, hingga mitra usaha lokal untuk membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan disabilitas.
Ketua HWDI Kalimantan Barat, Linda Fardini, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif yang dilakukan IPC Terminal Petikemas.
“Perempuan disabilitas juga harus memiliki kesempatan yang sama untuk mandiri dan berkembang. Kami berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal nyata untuk berusaha dan meningkatkan kualitas hidup. Terima kasih kepada IPC Terminal Petikemas atas kepedulian dan dukungan yang diberikan bagi perempuan disabilitas di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Program ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan IPC Terminal Petikemas melalui pendekatan from skill to sustainability, yakni pemberdayaan yang dimulai dari penguasaan keterampilan dasar, praktik langsung, hingga membuka akses terhadap peluang pengembangan usaha di masa mendatang.
Inisiatif tersebut juga sejalan dengan dukungan perusahaan terhadap Asta Cita ke-4 Pemerintah Republik Indonesia dalam penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pemberdayaan perempuan dan penyandang disabilitas. Selain itu, program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Kesetaraan Gender (SDG 5), Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDG 8), serta Berkurangnya Kesenjangan (SDG 10).
Melalui program ini, IPC Terminal Petikemas menegaskan bahwa inklusi harus diwujudkan melalui akses, keterampilan, dan peluang nyata agar setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan mandiri.





